Khusus, Siswa, Teratai

MADE IN INDONESIA: Surat dari Tucson, Arizona


Photo source: Santika Wibowo

Sebelum saya berangkat untuk Program YES ke Amerika tahun lalu, Mas Bob sempat bilang, “Kalau ada waktu, jangan sungkan kirim cerita ke website-nya Padmanaba, ya, San!” Jadi, anggaplah saya ini membayar janji pada diri sendiri untuk menulis sebuah cerita untuk Padmanaba.

Saya masih ingat dua tahun lalu waktu saya masih kelas X, Mas Arasy (Padmanaba 65) pernah bercerita, “Begitu kamu keluar dari Padmanaba nanti, dunia yang sesunguhnya itu menanti. Jauh lebih rumit dan sulit dari Padmanaba.” Saya yang waktu itu baru beberapa bulan menapakkan kaki di bumi tercinta Padmanaba, tentu saja belum mengerti makna kalimat Mas Arasy. Mungkin saat ini pun saya masih belum mengerti sepenuhnya, tapi setidaknya saya mengerti apa arti dari “lebih rumit dan lebih sulit” tersebut.

Bermaksud mengejar mimpi ke luar negeri dengan beasiswa penuh dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, berangkatlah saya ke negeri Paman Sam melalui program YES (Youth Exchange and Study). Proses pemberangkatan yang penuh dengan pengorbanan dan airmata akhirnya terbayar ketika akhirnya saya dan Azka (Padmanaba 67) menginjakkan kaki di Washington, D.C. bulan Agustus 2011. Semua terasa penuh dengan rasa bahagia. Saya hidup di dalam mimpi. Jalanan yang rapi, gedung bertingkat, lingkungan yang serba bersih, dan teknologi canggih dimana-mana tentu saja menjadi first impression.

Terlebih lagi ketika akhirnya saya sampai di kota tempat tinggal saya Tucson, Arizona yang kebetulan sangat kental dengan budaya koboi dan Meksiko-nya. Namun, selang beberapa minggu saya mulai merasa ternyata semuanya memang benar lebih rumit. Semua pelajaran yang serba bahasa Inggris memaksa saya untuk membuka kamus untuk setiap kata di buku paket American History, gaya pertemanan yang serba kasual, cium sana cium sini, peluk sana peluk sini, juga memaksa saya untuk bisa menyaring mana yang baik mana yang buruk.

Homesickness juga salah satu musuh terberat yang harus dikalahkan di awal tahun. Semua serba sulit dan butuh adaptasi. Sama seperti pengalaman MOP-PPLB yang penuh dengan proses adaptasi. Hanya lebih rumit. Dan ketika semuanya mulai terasa normal, tantangan terus saja datang menghampiri. Skill mengatur keuangan yang handal sangat diperlukan. Saya mendapat $125 per bulan. Rasanya banyak sekali untuk anak umur 17 tahun. Waktu itu saya berpikir, “Wah, kalo buat uang donatur event, segini, sih, banyak banget!” Tetapi, ternyata tidak. Uang sebanyak $125 per bulan sangat pas-pasan. Belum lagi ditambah kebutuhan pribadi perempuan yang ini itu. Keramas tiga hari sekali bukan karena malas atau kekurangan air, tapi karena program menghemat sampo yang harus berhasil. Itu semua juga ditambah ambisi untuk tidak mau merepotkan orang tua di Jogja dan berkeras kepala untuk tidak meminta uang. Semua terasa lebih berat.

Sebagai orang muslim pun begitu banyak tantangannya. Menjadi salah satu dari dua orang muslimah berjilbab di sekolah rasanya tidak mudah. Terlebih lagi untuk menunaikan ibadah utama shalat lima waktu di antara padatnya jadwal sekolah yang tidak toleran. Menemukan tempat shalat rasanya sulit sekali. Mulai dari kamar mandi, ruang kepala sekolah, sampai akhirnya menemukan tempat di perpustakaan adalah proses panjang nan menantang. Padahal biasanya mushala tersedia setiap jalan lima langkah.

Photo source: Santika Wibowo

Dengan semua tantangan dan cobaan di atas yang jauh lebih sulit daripada yang biasanya saya hadapi, tentu saja kebahagiaan dan kesempatan yang saya dapatkan jauh lebih besar. Tanpa terasa semua tantangan tersebut membuat saya lebih kuat setiap harinya. Saya merasa jauh lebih dewasa dari sebelas bulan lalu ketika berangkat. Kesempatan untuk bertemu orang–orang hebat seperti Bapak Dino Patti Djalal, Duta Besar Indonesia untuk Amerika, adalah salah satu highlights yang tidak mungkin saya lupakan.
Ditambah lagi kesempatan untuk bertemu teman-teman baru dan menghadiri konferensi internasional di luar Arizona. Menghadiri konferensi “Better Understanding for a Better World” di Orlando, Florida dan “Civic Education Workshop” di Washington, D.C. membuat saya ikut berapi-api membahas konflik di Timur Tengah dan menjadi salah satu wakil Indonesia. Padahal sebelas bulan lalu, saya berapi-api berdiskusi tentang masalah Padmanaba dan SMA lain, rundown acara hari H, dan strategi menyusun budget event. Kesempatan untuk travelling ke tempat-tempat impian seperti Disneyland dan Grand Canyon juga akhirnya terbuka lebar. 

Dan di antara semua kebahagiaan tersebut, saya menemukan satu kebahagiaan sekaligus kebanggaan terbesar: menjadi anak Indonesia. Semua orang terdengar berkeluh kesah tentang korupsi, masalah hukum dan politik, skandal ekonomi dimana-mana, tetapi ketika saya jauh dari tanah air dan menyaksikan bagaimana negara-negara lain juga sedang bergelut dengan permasalahan di atas, saya berbisik kepada diri saya sendiri, “Santi.. bersyukurlah kamu jadi anak Indonesia, hidup di ranah muda yang penuh dengan berbagai kesempatan di masa depan, tidak terlibat konflik dengan mana pun. Aman, tenteram, gemah ripah loh jinawi.”

Ditambah lagi ketika berjalan-jalan ke department store, kerap saya jumpai label Made in Indonesia di mana-mana. Membuat saya berpikir, betapa produktifnya negeri saya. Bahkan secara tiba-tiba salah satu teman saya bercerita, “Hey Santi! Did I ever tell you that my suit was made in Indonesia?” dan saya melihat label “MADE IN INDONESIA” tertulis di bagian dalam jasnya. Dengan bercanda saya menjawab, “Have I ever told you that I’m really proud to be an Indonesian? Because I really am!”

Ya, saya bangga menjadi anak Indonesia.

Menjadi exchange student memang tidak mudah. Tantangannya berat: hidup jauh dari keluarga, tuntutan berbicara bahasa Inggris selama 24 jam bahkan di dalam mimpi, menjadi representasi seorang Muslim dan anak nusantara, dan belajar membuka diri serta berpikir open-minded. Semuanya membuat saya mulai memahami apa arti dari kata “lebih rumit dan lebih sulit.” Banyak saya mendengar si A berubah atau si B tercebur dalam gang nakal di Amerika atau si C ternyata sudah lupa Bahasa Indonesia. Kedengaraannya memang mengerikan. Tetapi, sebenarnya semua tergantung diri sendiri. Tergantung bagaimana diri kita bergelut dengan dunia yang lebih rumit. Dunia yang sebenarnya.

Being an exchange student is actually one of the best things that ever happened to me. Saya ingat ayah saya pernah berpesan, “Nduk, mau di mana pun kamu belajar, jangan lupa kamu ini anak Indonesia. Jangan sampai hilang ke-Indonesia-annya. Jangan sampai lupa ke-Jawa-annya.” Dan tantangan terberat adalah berusaha tetap menjadi diri sendiri. Saya jadi sering berpikir, kalau semua orang punya label, dan label saya bertuliskan “MADE IN INDONESIA” saya akan berjalan dengan bangga di hall sekolah, dan terus menceritakan bagimana indahnya negeri saya tersebut: Indonesia.

Photo source: Santika Wibowo

Tucson, Arizona, 15 Mei 2012
Santika Wibowo, Padmanaba 67, YES Program 2011-2012

Tagged as
Posted by