Event

Kisah Perjuangan Suku Naga: Saatnya Indonesia Mulai Berkaca


SUku naga Jubah Macan Padmanaba

Suasana tampak berbeda pada Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta Sabtu, 16 April 2011 pukul 18.30 lalu. Spanduk besar bertuliskan “Kisah Perjuangan Suku Naga” terpampang anggun di lantai dua. Keramaian mulai terjadi di lantai bawah, tempat tiket box berada hingga pintu masuk menuju ruangan megah didalamnya.

Inilah pentas teater ke-38 dari ekstrakurikuler Jubah Macan (JM), SMA Negeri 3 Yogyakarta. Dengan membawakan naskah dari WS Rendra, sang penulis terkenal berjuluk Si Burung Merak, Jubah Macan mengaum menggemparkan Concert Hall TBY. Ratusan orang menjadi saksi dalam perhelatan Suku Naga malam itu.

Buah Kerja Keras

Pentas Besar, atau biasa disebut Penbes JM ini bukan hal yang mudah untuk dijalankan. Persiapan matang menjadi kunci utama kesuksesan pentas teater ini. Menyajikan cerita yang cukup berat menjadi tantangan tersendiri agar ceritanya mampu diterima masyarakat banyak secara lebih mendalam. Tak hanya faktor jalan cerita, pesan moral juga harus mampu disampaikan pada penonton secara benar dan akurat.

Proses persiapan dilaksanakan selama 4 bulan. Mulai dari pemilihan naskah, casting, bedah naskah, dan latihan rutin sangat memakan waktu yang tidak sedikit. Perjuangan harus dilaksanakan oleh para pejuang Jubah Macan untuk mencapai titik terbaik agat layak disajikan untuk khayalak luas.

Segala tangis, tawa, canda, putus asa, pernah menghinggapi, tapi rasa kekeluargaanlah yang membuat mereka mampu melewati semua proses panjang dengan baik. Namun hal itu terbayar dengan kesuksesan besar pertunjukan pentas teater ini.

Menyetil Pemerintah Indonesia

Kisah Perjuangan Suku Naga dimulai dengan bermunculannya globalisasi hingga mempengaruhi kawasan negara Astinam. Banyak negara yang mau menanamkan modalnya di negara tersebut melalui duta besar masing-masing.

Amerika, didalangi oleh Big Boss juga tertarik untuk mengeksploitasi negara Astinam, terutama di sebuah pertambangan di bukit Saloka, Pulau Naga yang merupakan tempat tinggal sekelompok suku tradisional yang disebut Suku Naga.

Suku Naga merupakan suku dengan peradaban dan kebudayaan yang kaya dan masih murni. Tempat tinggal suku ini akan direlokasi dan diubah menjadi kota pertambangan. Suku Naga ini tetap tidak mau. Beruntunglah ada Carlos, seorang wartawan internasional yang menyebarkan berita itu kepada seluruh dunia hingga menarik perhatian UNESCO. Usaha telah dilakukan oleh pemerintah Astinam yang dipimpin oleh ratu yang tergila-gila kemajuan. Segala usaha itu gagal. Bigboss akhirnya memindah haluan bisnisnya.

Cerita ini menyentil pemerintah Indonesia serta penduduknya yang mulai kehilangan kedaerahan serta ke-Indonesiaannya akibat globalisasi. Ketika segalanya tergila-gila akan globalisasi–kedok untuk memperkaya diri sendiri dengan eksploitasi– Suku Naga masih tetap bertahan dengan segala kepercayaan, budaya, dan agamanya. Dengan kukuh mereka mempertahankan idealisme mereka dan keinginan mereka agar daerah itu tidak “terjajah” oleh globalisasi.

Bukan perjuangan yang mudah memang. Namun itulah yang telah dilakukan oleh Suku Naga untuk mencapai keinginan dan harapan mereka. Menyongsong hari depan mereka dengan menjaga keselarasan dengan alam, bukan mengambil dari alam untuk eksploitasi demi kapitalisme. Itulah nilai luhur dari perjuangan suku yang hebat ini. Nilai luhur yang telah lama diabaikan oleh bangsa Indonesia.

Penyatuan seni dan sosial

Sebagai penyatuan berbagai aspek seni –teater, sastra, tari, dan musik– pentas ini memiliki harmoni yang kuat. Musik yang jazzy dan lembut sangat akrab ditelinga penonton. Perpaduan piano, gitar, bass, drum, dan biola membuat musik semakin kaya apalagi dengan dibantu suara emas Paduan Suara Padmanaba (PasPad).

Tata gerak yang cantik dan anggun mewarnai pentas dari awal hingga akhir. Bahasa yang dipilih, bahasa yang puitis, lugas, namun kadang juga menimbulkan gelak tawa membuat pentas makin berwarna. Penjiwaan masing-masing pemain juga membuat pentas tampak natural dan hidup. Meski sempat terkendala oleh tirai yang rusak di tengah pentas dan komposisi lighting dan plotting pemain yang sedikit meleset, pentas ini berjalan sangat lancar.

Sesuai kebijakan panitia, Rp5000,00 tiap tiket digunakan untuk sosial yaitu penyerahan beasiswa bagi yang membutuhkan. Pentas ini sangat penuh warna!

carlaaudina

Tagged as
Posted by