Khusus, Teratai

Buku Sejarah Padmanaba : Pentas Shakespeare sebagai Perayaan Lustrum ke-3!


Salam Buku Sejarah Padmanaba! Kali ini Tim Buku Sejarah Padmanaba akan kembali berbagi cerita mengenai apa saja fakta-fakta yang telah kita temukan selama beberapa minggu terakhir. Penasaran? Yuk disimak!

  • SMA Negeri 3 pernah mementaskan karya Shakespeare “A Midsummer Night’s Dream” sebagai perayaan Lustrum III (1957). Tak tanggung-tanggung, drama tersebut dipentaskan dalam full Bahasa Inggris!

Cerita ini diungkapkan HC Yohannes, lulusan Padmanaba tahun 1958 yang saat ini bekerja sebagai dosen Tehnik Elektro UGM. Yohanes mengungkapkan bahwa pada saat itu Sudibyo, guru bahasa Inggris, mengumpulkan siswa-siswi SMA Negeri 3 yang pandai berbahasa Inggris untuk mengikuti pentas tersebut. Pentas dilaksanakan di Gedung KONI Yogyakarta (sekarang). Berkat latihan yang luar biasa, pentas tersebut sukses terlaksana.

Keterangan foto : ketiga dari kanan, HC Yohannes. Kedua dari kanan dan berada di depan mic, Sudibyo, guru bahasa Inggris sekaligus pembimbing pentas ‘A Midsummer Night’s Dream’.

  • Laboratorium Kimia SMA Negeri 3 Yogyakarta pernah menjadi laboratorium sentral Jogja. Puluhan SMA lain melakukan praktikum disana!

Pernyataan ini diungkap Bejo, laborat Kimia SMA Negeri 3 Yogyakarta yang telah mengabdi sejak tahun 1970. Sekolah yang pernah melakukan praktikum disana meliputi : SMA 4, SMA 5, SMA 6, IKIP, Taman Madya, SMA Santo Thomas, SMA Bina Harapan, SMA Bhineka, Institut Indonesia, SMA Wonosari, dan masih banyak lagi.

  • Berapa SPP SMA Negeri 3 tahun 1966? 25 rupiah!

Hal tersebut diungkapkan Joko Pracoyo, lulusan Padmanaba tahun 1969. Menurutnya, sudah sejak dulu SPP SMA Negeri 3 menjadi SPP yang tertinggi di antara SMA negeri Yogyakarta lainnya. Pada masa itu, Rp 25,- sama saja dengan harga lima mangkok bakso. Namun, jangan dibandingkan dengan harga bakso sekarang ya. Alasannya, karena pada masa itu bakso adalah salah satu jenis makanan yang cukup mewah, tidak seperti sekarang yang mudah ditemukan dimana-mana.

  • Pada tahun 1950an, siswa-siswi SMA Negeri 3 tidak dididik lagi oleh kaum Belanda, melainkan pribumi. Tak tanggung-tanggung, mahasiswa UGM pun turut mengajar di SMA Negeri 3!

Pengajar asal Belanda turut meninggalkan SMA Negeri 3 semenjak Belanda mengakhiri penjajahannya di Indonesia. Karena kekurangan tenaga pengajar, mahasiswa UGM dari berbagai fakultas pada akhirnya turun langsung mendidik siswa-siswi SMA Negeri 3. Kesediaan mereka dilandasi oleh rasa sukarela dan tanpa dibatasi oleh syarat sertifikat minimum apapun. Ketiadaan prasayarat dapat dimaklumi mengingat usia UGM yang masih seumur jagung (resmi didirikan tahun 1949) sehingga sarjana pendidikan yang diluluskan pun masih sangat terbatas. Hal ini diungkapkan oleh Nyai Moedjono Probopranowo atau yang sering dipanggil Bu Probo, kepala SMA Negeri 3 tahun 1963-1971 (kepsek kedelapan). Pada tahun 1950 itu pula Bu Probo yang masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum UGM menjadi pengajar Ketatanegaraan dan Ekonomi di SMA Negeri 3.

  • Di masa mudanya, S. Bagyo , pelawak senior Indonesia, pernah ‘ditanggap’ dalam sebuah acara studi banding SMA Negeri 3.

Demi mendapatkan hiburan yang luar biasa, S. Bagyo yang merupakan siswa salah satu SMK Yogyakarta diakui sebagai siswa SMA Negeri 3 agar dapat mengikuti studi banding dan menghibur siswa-siswi SMA Negeri 3 selama perjalanan dan ketika studi banding berlangsung. Diceritakan oleh HC Yohannes, studi banding ke Malang dan Surabaya ini dilaksanakan pada tahun 1956 dengan naik kereta.

 

Nah, itu dia beberapa fakta sejarah yang Tim Buku Sejarah Padmanaba temukan. Apabila Anda memiliki informasi penting SMA N 3 Yogyakarta lainnya, jangan sungkan-sungkan untuk langsung hubungi  Bob (085743030397), Anin (085228394185), atau akun facebook Tim Buku Sejarah Padmanaba.

Kumpulkan sejarah kebanggaan kita, wujudkan Buku Sejarah Padmanaba!

Sumber Foto : Perpustakaan SMA Negeri 3 Yogyakarta

Tagged as Tags:
Posted by